"How sucks is this..." aku mengehela napas. Aku melirik jam tanganku. Sudah pukul 2.00 siang dan Christ belum muncul juga. Aku lihat Tyra berjalan ke arahku. "Nih, Christ minta kita nunggu setengah jam lagi," Tyra menyodorkan segelas Pepsi ke arahku. Aku langsung menyambarnya dengan cepat. 'Ya Tuhan.. anak ini kalap..' Aku mendengar isi pikiran Tyra yang berdiri mematung di hadapanku. "Hahaha.. Santai saja.. Sekalap-kalapnya aku, aku nggak bakal makan kamu," kataku. "Ah, sial.. Baca pikiranku lagi?" Tyra memukul kepalaku. Aku hanya nyengir lebar.
"Oh ya, by the way.. Kamu pernah nggak sih ngerasa stress karena bakat yang kamu milikin?" Tyra duduk di sampingku. Aku menatapnya sesaat. Kemudian mengalihkan pandangan pada bunga kamboja yang berguguran di bawah kaki kami. "Iya.. pernah.. Dulu, awal aku masuk SMP, aku bahkan sampai membenturkan kepalaku di tembok berulang kali.. Dan akibatnya...." aku menyingkap poniku dan memperlihatkan bekas jahitan. Tyra hanya meringis ngeri. "Sakitkah..?" Tanyanya polos."Mau coba?" aku menahan tawa melihat ekspressinya yang tegang. Tapi ia tetap mempertahankan ekspressi ngerinya itu. "Yah, aku sempat mengalami gegar otak ringan.. Jenis parsial gitu.." kataku pelan. "Parsial? Berarti hanya sebagian ingatanmu yang hilang?" Tanyanya lagi. Aku mengangguk. "Hanya kejadian sebulan sebelum peristiwa itu.. Beberapa ingatanku sempat kembali, namun aku masih berusaha mengingat yang lainnya. Tapi sampai sekarang aku nggak ingat alasan aku membenturkan kepalaku itu.. Kata mamaku, ada seorang teman yang memberitahu anak-anak lain tentang kemampuanku ini. Aku pun di-bully dan dikucilkan. Dan akhirnya ortuku memindahkanku ke sini." Ujarku mengcopy-paste jawaban mama setiap aku menanyakan kenapa aku pindah sekolah.
"Nah itu dia!" seruku melihat Christ datang dengan wajah bete. "Pulang yuk?" katanya lesu. "Eh? Tumben lemes banget. Gimana, hasil remidinya?" cerocos Tyra. "Belum dibagiin.. Ah, rese tuh Mr.Taufan.. Bukannya bantuin mikir malah pamerin motor barulah, pergi ke Jepang lah.. Ntar juga kalo perutnya tambah buncit bakal dipamerin tuh," Gerutu Christ. Tawaku dan Tyra meledak, diikuti oleh suara tawa Christ.
Tyra
"Aah.. ayo dong..." Aku memukul kepalaku dengan pensil. Kulihat plot cerita yang baru kutulis tadi. Inspirasi pada buntu semua! Tapi kalo dipikir-pikir.. Cerita Trivia tadi siang menarik buat aku tulis. Tapi siapa teman misterius yang membuat Trivia menjadi seperti itu? Kejam banget... Aku nggak bisa bayangin rasanya jadi Trivia. Pikiranku ngelantur entah kemana. Aku menatap wallpaper laptopku dalam diam. Wallpaper itu menampilkan foto teman-teman sekelasku saat demo kemaren. Aku menatap gambar Christ yang sedang memegang poster dan memakai ikat kepala.
Ah.. Christ. Dulu aku suka padanya. Tapi sepertinya dia masih menyukai gadis itu. Aku masih ingat dengan jelas cerita Christ. 'Aku dulu pernah suka sama teman sekelasku. Dia cantik banget, putih, rambutnya coklat panjang. Pinter lagi..' kata Christ dengan suara pelan. 'Tapi aku ditolak sama dia... Ya jelas sih, dulu aku nerd banget. Kacamata tebel, behelan, cupu banget deh.' lanjutnya sambil tertawa. 'Nggak secakep sekarang dong?' timpalku waktu itu. Tawanya semakin keras. 'Terus, karena aku patah hati, aku ngelakuin sesuatu... yang... yah bisa dibilang.....' kata-kata Christ sempat terputus. 'Intinya dia pindah sekolah karena dipaksa ortunya, mungkin karena alasan pekerjaan. Entahlah.. Yang jelas cewek itu udah memotivasi aku buat lebih memperhatikan penampilan, dan... Voila! The Prince Charming Christ!' ia menepuk dadanya. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya. Iya, dia masih menyukai gadis itu. Aku bisa lihat matanya yang berbinar-binar saat menceritakan gadis itu. Aku pun pulang... Entah aku tak tau bagaimana perasaanku waktu itu.
Ah sudahlah! Aku menutup laptopku dengan keras. No more Christ! Lagipula sudah sebulan ini aku suka sama orang lain... Cowok ganteng atlet basket, Bryce. Dan Christ sudah tau kalo aku suka sama Bryce.
Christ
Aku melepas baju yang basah oleh keringat. Sudah jam 5.00 sore dan Bryce tadi datang ke rumah, dan mengajakku bermain basket. Aku mengintip ke jendela, "Belum pulang juga dia," kataku sambil nyengir. Aku segera memakai kaos Barcelona dan menyambar dua kaleng Coca-Cola.
"Belum pulang?" Aku naik ke atas tembok dan duduk di sampingnya. Bryce lalu mengambil Coca-Cola di tanganku. "Belum.. Tamu yang baik harus pamit dulu ama tuan rumah," ia tersenyum jail. Kami berdua menenggak Coca-Cola itu dalam diam. "Udah deh Bryce.. Kenapa sih kamu nggak mau nerima Tyra? Hobi banget diuber-uber ma cewek," Aku menatapnya penuh tanda tanya. Ia hanya tertawa. Tawa yang pasti selalu diharapkan oleh setiap gadis yang mencari perhatiannya. Apalagi wajahnya yang sudah pasti akan membuat gadis di sekitarnya melting. Gimana nggak? Hidung mancung, kulit kecoklatan, tubuh atletis, model rambutnya yang mirip Zayn Malik.. Ah, ya, dia bisa dibilang kloning-nya Zayn. Beda jauh denganku. Mana mungkin gadis incaranku mau sama aku?
"Nggak Christ, sorry.. Cuman ada satu di sini," ia menunjuk dadanya. "Siapa?" tanyaku. "Mau tau aja.." ia nyengir kuda.. yah... padahal nggak ada kuda secakep ini-__-
"Kamu sendiri? Masih nunggu cewek yang pernah nolak kamu itu?" Ia kini mengumpan balik. Aku hanya menyembunyikan senyum dengan menundukkan kepala. "Dia udah deket kok... Selangkah lagi," ujarku. "Padahal ya, banyak loh adkel yang suka sama kamu." Bryce meninju lenganku pelan. "Iya percaya, Bryce nggak dapat, Christ pun jadi!" Timpalku pura-pura merengut. "Hahaha," Bryce tertawa dengan keras. Aku tak dapat menahan tawa.
Trivia
Ternyata sekolah baruku nggak seburuk itu. Apalagi ada Tyra yang pengertian dan pandai menjaga rahasia. Christ yang... Entahlah. Kenapa aku tak bisa membaca pikirannya?
Bryce
Siapa sih gadis yang disukai Christ itu? How special is she, until she can makes Christ crazy about her? Aku membuka pintu kamar. Masih terngiang di telingaku obrolan dengan Christ tadi. 'Udah deket'?? Aku mengingat ucapannya saat kutanyai tentang gadis itu. Apa maksudnya? Lagipula, Christ itu ganteng. Rambut urakan, tapi tercukur rapi, kulit putih, badan yang juga atletis sepertiku, jago komputer, and his glasses.. make me jealous.
"Tapi hanya satu gadis yang aku suka. Dan aku akan mendapatkannya!"
Christ
'Cuman ada satu di sini,' Kalimat Bryce tadi masih bertengger di benakku. Siapa gadis itu??
To be Continued...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar