Mengenai Saya

Foto saya
Yogya, Yogyakarta, Indonesia
Feel need to know more, just read what I wrote.

Kamis, 14 Juni 2012

Great Fieldtrip Ever ‎​(˘⌣˘)ε˘`)

Awawaw:3 Aku seneng louh ikut fieldtrip kemaren.. Soalnya Tupin mau fotoin *peeeeep* buat aku... Hahaha=))


Tupin and Tupek and the Chipmunk=))

trio kwekkwek:P

Ini.. umm.. uhukuhukuhuk 


Bu Par mah merem-.-

Bu Endang AND Bu Par


Si Gundul Jembatan Code dan Si Galak dari Gua Hantu sedang meratapi madesu mereka...

Fafa meh ketok memble ne tok-,- Faisal soyo meneh...ngetokke sarang burung walet

Citra, Tupek, Jiji, Sanek, Ermul

Nggilani


Hahaaa..Di sini ada kecengannya Sanek.. Monggo di zoom:P

Wooke.. ini nggilani sangat

Senin, 11 Juni 2012

Can You Read His Mind, Trivia? Part II

Bryce
Ya Tuhan... mengapa aku tak bisa berhenti memikirkannnya? Aku menatapnya dari jauh. Ia sedang duduk di tribun lapangan basket dengan soulmatenya itu. Rambutnya yang berkibas ditiup angin.. Wajahnya yang kemerahan karena tertawa.... "Bryce! Grab it!" Tony berteriak membuyarkan lamunanku. Aku berbalik dan menangkap bola basket itu tepat sebelum mengenai wajahku.

Tyra
"Triv, can you read his mind, please? Pliiiissscupliiis," Aku menatap Trivia dengan wajah memelas. Sumpah ekspresiku kali ini benar-benar menjiwai. Gimana nggak? Kepanasan di tribun lapangan basket, perut keroncongan, dompet kosong.... Tapi sebanding dengan melihat wajah Bryce sejam penuh. Trivia kembali tertawa dan malah mencubit pipiku. "Ok.. Capek tau dengerin radio rusak daritadi," Katanya sambil tersenyum iseng. "Serius atuh neng," kataku gemas.

Trivia
Aku sedari tadi mencoba mengalihkan perhatian Tyra. Kau tau, membaca pikiran anak laki-laki kadang seperti membuka majalah pria-___- Dan aku benci hal itu. Tapi aku akan melakukannya demi Tyra. Aku memusatkan perhatian pada Bryce di seberang lapangan yang sedang minum. Now... Im reading his mind.

Bryce
Sesuatu terasa aneh di tengkukku. Aku berbalik... Dan mendapati mata kami bertemu. Walaupun jarak kami hanya beberapa meter.. Aku dapat melihatnya. Matanya berkilat kelabu sekilas. Dan aku merasa tubuhku seperti dialiri listrik statis. Lagi-lagi aku menyadari bahwa aku tak dapat mengalihkan pandanganku dari matanya. Senyumku mengembang. Dalam hati aku menyebut namanya.

Trivia
Bodoh! Aku pasti tak fokus! Oh, Come on! Aku tak mempercayai apa yang baru kudengar dari pikiran Bryce. Ia menyebut namaku. Dan hal-hal konyol lain seperti tak bisa mengalihkan pandangan, listrik statis dan hal-hal bodoh lainnya! Aku sedikit menghentakkan kepalaku dengan kesal. Ya Tuhan, mengapa dia tersenyum?! Namun hatiku berdebar dengan cepat saat mata kami bertemu lagi. "Gimana?" suara Tyra mengagetkanku. Syukurlah aku bisa kabur dari koneksi aneh ini. "Dia memikirkanmu," kataku singkat. Bodoh! Entah kebohongan apalagi yang akan aku katakan demi menjaga perasaan Tyra.

Christ
Aku melempar bola basket ke pinggir lapangan. Kemudian berlari ke arah teman-temanku. Aku melihat Bryce. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padanya tentang strategi bermain yang kami mainkan tadi. But, wait... Langkahku terhenti. Dia tersenyum ke arah siapa? Aku mengalihkan pandangan ke seberang lapangan. Trivia dan Tyra. Mungkinkah Bryce suka pada... Tyra? Atau Trivia? Siapa di antara mereka?

Only If

Kalau ada satu kalimat yang bisa ucapkan untuk menghentikan tangismu..
Hanya satu yang akan ku ucapkan, "Aku takkan pergi,"
Jika ada satu hal yang bisa kulakukan..
Aku hanya akan tinggal selamanya di sisimu
Sebagai sahabat
Sebagai teman
Sebagai saudara
Bahkan sebagai musuh jika itu yang kau inginkan

Saat kulihat air matamu menitik
Hatiku teriris pedih
Aku tau air mata itu untukku

Setegar apapun aku berusaha di depanmu
Taukah kau?
Aku juga menitikkan air mata lebih banyak di belakangmu
Taukah kau?
Langkahku terasa berat saat menjauh darimu
Dan akan terasa lebih berat bersama air mata yang terus jatuh saat ku harus mengucapkan kata pisah padamu

Sabtu, 09 Juni 2012

Can You Read His Mind, Trivia??

  Trivia
"How sucks is this..." aku mengehela napas. Aku melirik jam tanganku. Sudah pukul 2.00 siang dan Christ belum muncul juga. Aku lihat Tyra berjalan ke arahku. "Nih, Christ minta kita nunggu setengah jam lagi," Tyra menyodorkan segelas Pepsi ke arahku. Aku langsung menyambarnya dengan cepat. 'Ya Tuhan.. anak ini kalap..' Aku mendengar isi pikiran Tyra yang berdiri mematung di hadapanku. "Hahaha.. Santai saja.. Sekalap-kalapnya aku, aku nggak bakal makan kamu," kataku. "Ah, sial.. Baca pikiranku lagi?" Tyra memukul kepalaku. Aku hanya nyengir lebar.
  "Oh ya, by the way.. Kamu pernah nggak sih ngerasa stress karena bakat yang kamu milikin?" Tyra duduk di sampingku. Aku menatapnya sesaat. Kemudian mengalihkan pandangan pada bunga kamboja yang berguguran di bawah kaki kami. "Iya.. pernah.. Dulu, awal aku masuk SMP, aku bahkan sampai membenturkan kepalaku di tembok berulang kali.. Dan akibatnya...." aku menyingkap poniku dan memperlihatkan bekas jahitan. Tyra hanya meringis ngeri. "Sakitkah..?" Tanyanya polos."Mau coba?" aku menahan tawa melihat ekspressinya yang tegang. Tapi ia tetap mempertahankan ekspressi ngerinya itu. "Yah, aku sempat mengalami gegar otak ringan.. Jenis parsial gitu.." kataku pelan. "Parsial? Berarti hanya sebagian ingatanmu yang hilang?" Tanyanya lagi. Aku mengangguk. "Hanya kejadian sebulan sebelum peristiwa itu.. Beberapa ingatanku sempat kembali, namun aku masih berusaha mengingat yang lainnya. Tapi sampai sekarang aku nggak ingat alasan aku membenturkan kepalaku itu.. Kata mamaku, ada seorang teman yang memberitahu anak-anak lain tentang kemampuanku ini. Aku pun di-bully dan dikucilkan. Dan akhirnya ortuku memindahkanku ke sini." Ujarku mengcopy-paste jawaban mama setiap aku menanyakan kenapa aku pindah sekolah.
   "Nah itu dia!" seruku melihat Christ datang dengan wajah bete. "Pulang yuk?" katanya lesu. "Eh? Tumben lemes banget. Gimana, hasil remidinya?" cerocos Tyra. "Belum dibagiin.. Ah, rese tuh Mr.Taufan.. Bukannya bantuin mikir malah pamerin motor barulah, pergi ke Jepang lah.. Ntar juga kalo perutnya tambah buncit bakal dipamerin tuh," Gerutu Christ. Tawaku dan Tyra meledak, diikuti oleh suara tawa Christ.
 
Tyra
"Aah.. ayo dong..." Aku memukul kepalaku dengan pensil. Kulihat plot cerita yang baru kutulis tadi. Inspirasi pada buntu semua! Tapi kalo dipikir-pikir.. Cerita Trivia tadi siang menarik buat aku tulis. Tapi siapa teman misterius yang membuat Trivia menjadi seperti itu? Kejam banget... Aku nggak bisa bayangin rasanya jadi Trivia. Pikiranku ngelantur entah kemana. Aku menatap wallpaper laptopku dalam diam. Wallpaper itu menampilkan foto teman-teman sekelasku saat demo kemaren. Aku menatap gambar Christ yang sedang memegang poster dan memakai ikat kepala.
  Ah.. Christ. Dulu aku suka padanya. Tapi sepertinya dia masih menyukai gadis itu. Aku masih ingat dengan jelas cerita Christ. 'Aku dulu pernah suka sama teman sekelasku. Dia cantik banget, putih, rambutnya coklat panjang. Pinter lagi..' kata Christ dengan suara pelan. 'Tapi aku ditolak sama dia... Ya jelas sih, dulu aku nerd banget. Kacamata tebel, behelan, cupu banget deh.' lanjutnya sambil tertawa. 'Nggak secakep sekarang dong?' timpalku waktu itu. Tawanya semakin keras. 'Terus, karena aku patah hati, aku ngelakuin sesuatu... yang... yah bisa dibilang.....' kata-kata Christ sempat terputus. 'Intinya dia pindah sekolah karena dipaksa ortunya, mungkin karena alasan pekerjaan. Entahlah.. Yang jelas cewek itu udah memotivasi aku buat lebih memperhatikan penampilan, dan... Voila! The Prince Charming Christ!' ia menepuk dadanya. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya. Iya, dia masih menyukai gadis itu. Aku bisa lihat matanya yang berbinar-binar saat menceritakan gadis itu. Aku pun pulang... Entah aku tak tau bagaimana perasaanku waktu itu.
   Ah sudahlah! Aku menutup laptopku dengan keras. No more Christ! Lagipula sudah sebulan ini  aku suka sama orang lain... Cowok ganteng atlet basket, Bryce. Dan Christ sudah tau kalo aku suka sama Bryce.

Christ
Aku melepas baju yang basah oleh keringat. Sudah jam 5.00 sore dan Bryce tadi datang ke rumah, dan mengajakku bermain basket. Aku mengintip ke jendela, "Belum pulang juga dia," kataku sambil nyengir. Aku segera memakai kaos Barcelona dan menyambar dua kaleng Coca-Cola.
  "Belum pulang?" Aku naik ke atas tembok dan duduk di sampingnya. Bryce lalu mengambil Coca-Cola di tanganku. "Belum.. Tamu yang baik harus pamit dulu ama tuan rumah," ia tersenyum jail. Kami berdua menenggak Coca-Cola itu dalam diam. "Udah deh Bryce.. Kenapa sih kamu nggak mau nerima Tyra? Hobi banget diuber-uber ma cewek," Aku menatapnya penuh tanda tanya. Ia hanya tertawa. Tawa yang pasti selalu diharapkan oleh setiap gadis yang mencari perhatiannya. Apalagi wajahnya yang sudah pasti akan membuat gadis di sekitarnya melting. Gimana nggak? Hidung mancung, kulit kecoklatan, tubuh atletis, model rambutnya yang mirip Zayn Malik.. Ah, ya, dia bisa dibilang kloning-nya Zayn. Beda jauh denganku. Mana mungkin gadis incaranku mau sama aku?
   "Nggak Christ, sorry.. Cuman ada satu di sini," ia menunjuk dadanya. "Siapa?" tanyaku. "Mau tau aja.." ia nyengir kuda.. yah... padahal nggak ada kuda secakep ini-__-
   "Kamu sendiri? Masih nunggu cewek yang pernah nolak kamu itu?" Ia kini mengumpan balik. Aku hanya menyembunyikan senyum dengan menundukkan kepala. "Dia udah deket kok... Selangkah lagi," ujarku. "Padahal ya, banyak loh adkel yang suka sama kamu." Bryce meninju lenganku pelan. "Iya percaya, Bryce nggak dapat, Christ pun jadi!" Timpalku pura-pura merengut. "Hahaha," Bryce tertawa dengan keras. Aku tak dapat menahan tawa.

Trivia
Ternyata sekolah baruku nggak seburuk itu. Apalagi ada Tyra yang pengertian dan pandai menjaga rahasia. Christ yang... Entahlah. Kenapa aku tak bisa membaca pikirannya?

Bryce
Siapa sih gadis yang disukai Christ itu? How special is she, until she can makes Christ crazy about her? Aku membuka pintu kamar. Masih terngiang di telingaku obrolan dengan Christ tadi. 'Udah deket'?? Aku mengingat ucapannya saat kutanyai tentang gadis itu. Apa maksudnya? Lagipula, Christ itu ganteng. Rambut urakan, tapi tercukur rapi, kulit putih, badan yang juga atletis sepertiku, jago komputer, and his glasses.. make me jealous.
  "Tapi hanya satu gadis yang aku suka. Dan aku akan mendapatkannya!"

Christ
'Cuman ada satu di sini,' Kalimat Bryce tadi masih bertengger di benakku. Siapa gadis itu??


To be Continued...

Be a Probie agaain...

My capture ƪ(―˛―“)ʃ

The sun's shy, and hiding behind the lamp:D



white

Lonely

@SCHOOL

Hey.. Bunda Lastri keren yah;P Kaya Queen gimana gitu... trus yang d sampingnya itu.. uhukuhuk.. kacung-____-"




ini pas demo.. heboh beud costumenya.. haha:P

Perhatiin yang paling kiri pake jaket jeans..


Eh, ada cewek nyempil di sini..waduuouh>.<


Movie Maker Caption!




Erma, Sanek, Citra @school




Tupek, Citra, Sanek, Ermul:))