Bryce
Ya Tuhan... mengapa aku tak bisa berhenti memikirkannnya? Aku menatapnya dari jauh. Ia sedang duduk di tribun lapangan basket dengan soulmatenya itu. Rambutnya yang berkibas ditiup angin.. Wajahnya yang kemerahan karena tertawa.... "Bryce! Grab it!" Tony berteriak membuyarkan lamunanku. Aku berbalik dan menangkap bola basket itu tepat sebelum mengenai wajahku.
Tyra
"Triv, can you read his mind, please? Pliiiissscupliiis," Aku menatap Trivia dengan wajah memelas. Sumpah ekspresiku kali ini benar-benar menjiwai. Gimana nggak? Kepanasan di tribun lapangan basket, perut keroncongan, dompet kosong.... Tapi sebanding dengan melihat wajah Bryce sejam penuh. Trivia kembali tertawa dan malah mencubit pipiku. "Ok.. Capek tau dengerin radio rusak daritadi," Katanya sambil tersenyum iseng. "Serius atuh neng," kataku gemas.
Trivia
Aku sedari tadi mencoba mengalihkan perhatian Tyra. Kau tau, membaca pikiran anak laki-laki kadang seperti membuka majalah pria-___- Dan aku benci hal itu. Tapi aku akan melakukannya demi Tyra. Aku memusatkan perhatian pada Bryce di seberang lapangan yang sedang minum. Now... Im reading his mind.
Bryce
Sesuatu terasa aneh di tengkukku. Aku berbalik... Dan mendapati mata kami bertemu. Walaupun jarak kami hanya beberapa meter.. Aku dapat melihatnya. Matanya berkilat kelabu sekilas. Dan aku merasa tubuhku seperti dialiri listrik statis. Lagi-lagi aku menyadari bahwa aku tak dapat mengalihkan pandanganku dari matanya. Senyumku mengembang. Dalam hati aku menyebut namanya.
Trivia
Bodoh! Aku pasti tak fokus! Oh, Come on! Aku tak mempercayai apa yang baru kudengar dari pikiran Bryce. Ia menyebut namaku. Dan hal-hal konyol lain seperti tak bisa mengalihkan pandangan, listrik statis dan hal-hal bodoh lainnya! Aku sedikit menghentakkan kepalaku dengan kesal. Ya Tuhan, mengapa dia tersenyum?! Namun hatiku berdebar dengan cepat saat mata kami bertemu lagi. "Gimana?" suara Tyra mengagetkanku. Syukurlah aku bisa kabur dari koneksi aneh ini. "Dia memikirkanmu," kataku singkat. Bodoh! Entah kebohongan apalagi yang akan aku katakan demi menjaga perasaan Tyra.
Christ
Aku melempar bola basket ke pinggir lapangan. Kemudian berlari ke arah teman-temanku. Aku melihat Bryce. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padanya tentang strategi bermain yang kami mainkan tadi. But, wait... Langkahku terhenti. Dia tersenyum ke arah siapa? Aku mengalihkan pandangan ke seberang lapangan. Trivia dan Tyra. Mungkinkah Bryce suka pada... Tyra? Atau Trivia? Siapa di antara mereka?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar